Guruku Oh Guruku…
Oleh Dandun Suroto
Guru adalah sosok tanpa nama yang setiap saat kita titipi putra-putri kita dengan harapan mereka dapat mencurahkan perhatian dan mengorbankan waktu mereka untuk mendidik dan menambahi ilmu pengetahuan putra putri kita hari demi hari. Harapan memiliki anak yang cerdas dan siap menghadapi kerasnya kehidupan ini, kita letakkan di pundak para guru. Namun pernahkah kita bertanya, telah cukupkah penghargaan yang kita berikan kepada para guru dan sesuaikah penghargaan itu dengan beban berat yang kita pikulkan kepada mereka ?
Seorang guru muda yang baru diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan harus mengajar di wilayah pelosok, sekarang ini mendapatkan gaji sebesar 1,7 juta. Dibandingkan dengan Upah Minimum regional yang diterima buruh-buruh pabrik, angka ini tentu saja akan tampak besar. Namun bila kita cermati nilai beban dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh sang guru dimana ia dituntut untuk mengolah dan mencerdaskan generasi muda bangsa ini, tentunya besaran itu masih belum sepadan. Terlebih ketika guru muda ini kemudian berumahtangga dan memiliki kewajiban untuk memenuhi hajat hidup anak istrinya.
Seorang guru yang telah mengabdi selama 20 tahun kerja mendapat gaji bulanan sebesar 2,8 jutaan. Bila ia diasumsikan menjadi satu-satunya person yang menafkahi keluarganya, tentu saja besaran gaji bulanan ini hanya akan cukup memenuhi kebutuhan standar minimum kehidupan. Guru-guru kita tak bisa dan mungkin tak boleh bermimpi mempunyai kehidupan dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Tetangga saya yang seorang guru dan memiliki putra lima orang, tak memiliki biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi daripada SMU. Logikanya, darimana ia memperoleh uang untuk biaya masuk perguruan tinggi yang hari ini mencapai jutaan rupiah. Dan kalaupun ia bisa mendapatkan dana tersebut, untuk biaya-biaya kuliah berikutnya tetap saja ia akan mengalami kesulitan. Alhasil, mimpinya untuk memiliki anak-anak yang sarjana harus ia pendam dalam-dalam.
Jangan lagi kita bicara soal guru-guru honorer yang dibayar berdasarkan jam mengajarnya. Sungguh, mereka mendapatkan penghasilan jauh dibawah pendapatan para pengemis dan pengamen jalanan. Maka masih layakkah bila kita menuntut mereka, guru-guru kita, untuk mengorbankan waktu mereka dan memberikan perhatian penuh pada pendidikan putra-putri kita ?
Konon, perundang-undangan di negeri ini telah mengamanatkan kepada para pengelola pemerintahan untuk menyisihkan sedikitnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara bagi dunia pendidikan di negeri ini. Hanya 20 % Bung ! Bandingkan dengan anggaran pendidikan di negara-negara tetangga kita dimana angka APBN nya lebih besar dari kita dan jumlah siswanya jauh dibawah kita. Anggaran mereka jauh lebih besar sehingga kita seharusnya maklum mengapa arus tenaga kerja kita mengalir ke negeri tetangga. Dan sedihnya, anggaran pendidikan yang 20 % itu, memasukkan unsur biaya pembayaran gaji-gaji para guru sehingga praktis yang tersisa untuk meningkatkan mutu pendidikan sangat terbatas.
Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, banyak diantara para guru yang kemudian mencari tambahan penghasilan dengan mengajar di kursus-kursus atau bimbingan-bimbingan belajar. Ada pula yang kemudian berprofesi ganda menjadi tukang ojek motor, tukang bakso atau bahkan menjadi pengumpul barang bekas seperti kasus yang terjadi di bekasi. Wajarkah kondisi ini ? Menurut saya tidak, karena hal ini mencerminkan fakta bahwa ada yang salah pada sistem pendidikan kita secara keseluruhan ketika para pamong ajar harus tetap mengais rejeki diluar kerja wajibnya karena ini berarti prioritas mendidiknya sedikit banyak akan terganggu.
Ada harapan besar yang kita pikulkan kepada saudara-saudara kita para guru. Ada tanggung jawab besar yang kita bebankan kepada mereka, maka sudah selayaknya bila kita q.q. penyelenggara negara ini, mulai menjadikan kesejahteraan para guru sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila pegawai-pegawai BUMN, jajaran kejaksaan, pegawai imigrasi dan instansi-instansi tertentu lainnya yang ‘hanya’ mengurusi benda mati saja dapat memperoleh gaji dan tunjangan yang besar dan menggiurkan, mengapa guru-guru kita yang setiap hari mengurusi anak-anak bangsa tidak kita berikan perhatian lebih ?
Tentunya kita tidak ingin memiliki guru yang ‘asal-asalan’ mengajar dan mendidik karena pikirannya terfokus pada bagaimana memenuhi dan menutupi kekurangan pendapatan mereka sehari-hari. Jangan biarkan guru-guru kita memendam rasa sakit hati mendengar sejawat-sejawat sesama PNS yang bertugas di instansi tertentu memperoleh gaji sekian kali lipat dari apa yang mereka terima selama ini. Maka langkah awal untuk memperbaiki dunia pendidikan kita adalah dengan memberikan kesejahteraan yang memadai bagi para pamongnya, guru-guru kita.
Saya khawatir, adagium yang selama ini kita gembar-gemborkan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, membuat kita beramai-ramai meminggirkan kepentingan kesejahteraan mereka dan menuntut mereka untuk terus mengabdi tanpa peduli sekecil apa penghargaan yang kita berikan. Mungkin kita harus mulai mempropagandakan adagium baru bahwa tanpa guru kita bukanlah siapa-siapa dan tak akan menjadi apa-apa. ***

