ROBOHNYA ATAP SEKOLAH KAMI


Hari itu, Senin, 19 Juli 2010. Siswa-siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Uswatun Hasanah, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, asyik menyimak pelajaran di hari pertama masuk sekolah. Mendadak langit-langit kelas ambrol. Kalang kabut, semua siswa lari keluar kelas menghindari pecahan eternit yang berjatuhan. Tak urung, tiga di antara mereka terluka akibat terkena reruntuhan plafon.

Khawatir dengan keselamatan anak didiknya, keesokan harinya, Kepala MTs, Iis Rohimah memindahkan tempat belajar di luar kelas. Namun semakin siang, matahari semakin garang. Tak tahan dengan panasnya, siswa kelas VII kembali masuk ke kelas yang nyaris ambruk itu. “Terpaksa karena tidak ada ruangan lain yang bisa digunakan,” kata Iis.

Untuk sementara, tga batang kayu dipasang untuk menopang sisa langit-langit kelas. Masing-masing di bagian kiri, kanan, dan di tengah ruangan. Merasa tak aman dengan tindakan darurat itu, seorang siswa, Neng Resti, bolak-balik mendongak ke langit-langit kelas selama pelajaran berlangsung.

Kini, tiga bulan lebih sejak atap kelas mereka ambrol, siswa-siswa kelas VII masih bertahan belajar di ruang kelas itu. Belum ada perbaikan yang dilakukan. Tiga batang kayu penopang darurat juga masih digunakan.

Bulan berikutnya, giliran genting atap kelas IV, V dan VI SD Negeri Rajamandala Kulon 1 (Rama 1), Kecamatan Cipatat, berjatuhan. Beruntung kemudian siswa-siswa sekolah ini masih bisa memanfaatkan Balai Desa Rajamandala Kulon dan Gedung PGRI sebagai tempat belajar darurat.

Tapi yang namanya darurat, pastilah tak nyaman. Ruang yang terbatas memaksa siswa belajar berdesakan. Psikologi siswa pun terganggu akibat suasana belajar yang tidak memadai. Nilai-nilai pelajaran mulai turun.

“Biasanya dapat nilai 8, sekarang jadi 6,5. Matematika, Bahasa Indonesia… wah, hampir semua (turun)!” cerita salah seorang siswi, Novi Nur Kholifah. Balai Desa itu berisik, sehingga mengganggu konsentrasinya saat belajar.

Novi juga malu karena sering diejek teman-temannya dari SD lain. “Suka diolok-olok. Katanya, masa sekolah favorit kok ambruk?” ujarnya. Teringat pula olehnya pandangan mata teman-temannya itu saat dirinya mengangkut sendiri bangku belajar dari sekolahnya ke Balai Desa.

Segudang prestasi sekolah yang berdiri sejak 1968 ini rupanya bukan jaminan untuk cepat mendapat bantuan dari pemerintah. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bandung Barat bergeming. Tak satu pejabat pun datang menengok pada hari kejadian hingga saat ini.

“Barangkali sudah cukup puas dengan laporan yang diterima dari bawahan,” ujar Kepala SDN Rama 1, Dana Supriatna. Tampak di ruang kerjanya deretan piala dalam lemari yang diraih para siswanya dari berbagai perlombaan tingkat kecamatan, maupun provinsi.

Tetangga mereka, SDN Sindangsari, Desa Citatah, kondisinya lebih mengenaskan lagi. Setahun lalu, gedung sekolah itu hendak dijadikan lokasi tes penerimaann Calon Pegawai Negeri Sipil. Namun belum sampai waktu pelaksanaan tes, bangunan kelas roboh. Tes pun batal digelar di sana.

Hingga kini, bangunan roboh, yang terdiri atas tiga ruang kelas, belum juga direnovasi. Rupa sekolah pun jadi tampak kumuh. Ruang kelas roboh dibiarkan kosong melompong, beratapkan langit berawan. Sebelah dinding kelas pun sudah tak ada.

Ruang kelas lain yang tak ikut roboh juga dikosongkan karena atapnya telah rapuh. Satu ruang kelas masih digunakan siswa kelas VI pada pagi hari. Sementara siswa kelas IV dan V baru belajar jika kelas pagi bubar.

Entah kapan ruang kelas bisa diperbaiki. Bantuan dana yang dijanjikan turun Juli lalu, tak ada kabar beritanya lagi.

Dari pantauan BUJET, beberapa bangunan sekolah lain di Kabupaten Bandung Barat tampak sudah lapuk dan masih digunakan. Atap dua ruang kelas di SDN Cihampelas 3, Kecamatan Cihampelas bolong-bolong. Air masuk dari lubang-lubang itu ketika hujan turun. Sebagian besar kayu penyangga atap sekolah, yang dibangun pada 1918 itu, juga dimakan rayap.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bandung Barat, kerusakan kelas paling banyak  dialami gedung sekolah dasar. Kondisi ruang kelas rusak berat di SD mencapai 1134 kelas, sedangkan jumlah rusak ringan 895. Bangunan kelas rusak di SD paling banyak terjadi di Kecamatan Padalarang, Lembang, Cipatat, dan Cikalong Wetan. Rata-rata ruang kelas rusak lebih dari 400.

Di sekolah menengah pertama, sebanyak 132 kelas rusak berat dan 146 lainnya rusak ringan. Ini menurut data tahun lalu. “Data terbaru belum masuk, karena pendataan ruang kelas tahun 2010 belum selesai,” kata Kepala Sub Bagian Bina Program Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bandung Barat, A. Djuhaeri.

Menurutnya, sekolah-sekolah yang ambruk kemungkinan sudah masuk ke dalam daftar tunggu untuk direnovasi. Namun belum sempat bantuan itu cair, bangunan keburu ambruk.

Seharusnya, kata Djuhaeri, ada semacam dana tanggap darurat untuk perbaikan sekolah karena proses pengucuran bantuan untuk merehabilitasi sekolah lamban. Idealnya, sekolah bisa dibangun kembali dalam waktu enam bulan. Namun proses pencairan dana makan waktu. Anggaran untuk perbaikan sekolah harus diajukan pada APBD Perubahan karena APBD Murni 2010 sudah berjalan pada saat sekolah ambruk.

Karena tak pasti kapan bantuan datang, Dana Supriatna, berniat menukar guling tanah agar bisa segera mendapat gedung sekolah baru. Sudah ada pihak yang menawarkan tukar guling, namun ini baru akan menjadi pilihan jika hingga pengujung tahun ini, sekolahnya belum bisa dibangun. Para orang tua siswanya juga sudah mendesak agar putra-putrinya bisa segera belajar di ruang kelas yang layak. Rencananya bangunan sekolah baru akan dibangun sekitar 300 meter dari lokasi sekolah yang lama.

Adapun Iis Rohimah masih sabar menanti cairnya bantuan. Dia memperkirakan dana yang mereka butuhkan untuk merenovasi ruang kelas mencapai Rp 110 juta. Kepala Seksi Madrasah Kantor Kementerian Agama Bandung Barat, Ahmad, bantuan untuk sekolah-sekolah yang berada di bawah kewenangan Kementerian Agama diperkirakan cair pada akhir Oktober atau selambatnya awal November. [Santi Widianti]