Apa Itu Hilal yang Jadi Penentu Awal Ramadan dan Idulfitri?

Berita, Teknologi3 Dilihat
banner 468x60
banner 468x60

Housekeeping.my.id –


Jakarta, CNN Indonesia

Pemerintah bakal menggelar Sidang Isbat (penetapan) awal Ramadan 1446 Hijriah/2025 hari ini, Jumat (28/2) untuk menentukan awal bulan puasa bagi umat Islam di Indonesia.

Penentuan awal bulan Ramadan dapat menggunakan dua metode, yakni rukyatul hilal (pengamatan) dan metode hisab (perhitungan). Lalu, apa itu hilal?

Hilal merupakan fase bulan sabit setelah bulan baru. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), sebab intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan hilal merupakan bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib yang jadi penanda awal bulan Hijriah.





Kalender Hijriah, yang dipakai dalam penanggalan Islam, dihitung berdasarkan peredaran Bulan. Fasenya bermula dari bulan mati, sabit tipis, berkembang menjadi purnama, hingga kembali sabit dan hilang dari langit.

Hilal menjadi bukti paling kuat telah bergantinya periode fase bulan yang didahului bulan sabit tua dan bulan mati. Dalam konteks awal bulan puasa, itu menjadi bukti bergantinya bulan Syakban ke Ramadan.

Masalahnya, kata Thomas, masih ada perdebatan soal metode penentuannya. Hal ini pula yang kerap membuat perbedaan awal puasa dan lebaran.

“Kondisi saat ini masih adanya dikotomi antara Rukyat dan Hisab yang sesungguhnya dalam ilmu astronomi kedudukannya setara,” ujar dia, dikutip dari situs BRIN.

Penentuan hilal sebagai bulan baru kalender hijriah ditentukan tinggi hilal yang teramati.

READ  Rp3.280 T Raib Imbas Crazy Rich Shopping di Luar RI, Prabowo Bisa Apa?

Dikutip dari situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tinggi hilal adalah besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di Horizon (cakrawala) teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada.

Tinggi hilal positif berarti hilal berada di atas horizon pada saat Matahari terbenam. Tinggi hilal negatif berarti hilal berada di bawah horizon pada saat Matahari terbenam.

Abdul Mufid, Postdoctoral pada kelompok riset Astronomi dan Observatorium di Pusat Riset Antariksa BRIN, menyebut ada perbedaan dan perubahan kriteria ketinggian hilal.

Kriteria lama mengacu pada tinggi hilal minimal 2 derajat dan jarak sudut Bulan-Matahari (elongasi) minimal 3 derajat serta umur bulan minimal 8 jam.

Sementara, kriteria baru, berdasarkan kesepakatan Menteri-menteri Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Kriteria MABIMS ini, kata Mufid, baru diterapkan di Indonesia pada 2022, yakni saat penentuan awal Ramadan dan Idulfitri 1444 H.

Bedanya dengan hisab

Hisab dan rukyat merupakan dua metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah. Keduanya memiliki pendekatan dan metode penghitungan yang berbeda dalam menentukan posisi Bulan.

Sederhananya, hisab adalah metode perhitungan astronomi yang menentukan posisi bulan berdasarkan data matematis. Sementara metode rukyat dilakukan dengan cara mengamati langsung hilal atau bulan sabit muda di langit.

Hisab dapat diartikan sebagai perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam awal bulan di kalender Hijriah.

Thomas menyebut kedua metode untuk penentuan awal Ramadan ini setara, bisa saling menggantikan atau saling melengkapi.

“Tanda-tanda awal bulan yang berupa hilal bisa dilihat dengan mata (rukyat) dan bisa juga dihitung (hisab) berdasarkan rumusan keteraturan fase-fase Bulan dan data-data rukyat sebelumnya tentang kemungkinan hilal bisa dirukyat,” katanya pada tahun 2022 lalu.

READ  Janji Perdana Menteri Korsel Usai Presiden Yoon Dimakzulkan

Meski demikian, Thomas menyebut metode rukyatul hilal dan hisab sama-sama bersifat dugaan, sehingga tidak ada yang pasti. Kedua metode ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Pengamat rukyat disebut harus benar-benar yakin atas apa yang dilihat agar tidak keliru dalam memberikan informasi.

“Rukyat pada prinsipnya kita melihat. Tapi pada kenyataannya (hilal) sangat tipis dan bisa jadi ada cahaya lain. Yakin tidak? Makanya perukyat itu akan disumpah yakin tidak yang dilihat hilal?” tuturnya.

Sementara itu, metode hisab yang menggunakan perhitungan memang dinilai akurat, tetapi untuk menentukan sudah masuk awal bulan baru atau belum tetap harus memenuhi sejumlah kriteria yang bisa dipenuhi lewat pengamatan.

(dmi/dmi)


[Gambas:Video CNN]

Artikel ini Disadur Dari Berita : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20250227172815-199-1203220/apa-itu-hilal-yang-jadi-penentu-awal-ramadan-dan-idulfitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *