Housekeeping.my.id –
Jakarta, CNN Indonesia —
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada Sabtu (8/3) bahwa negaranya tidak terima diintimidasi untuk berunding, sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan telah mengirim surat dia yang mendesak perundingan mengenai kesepakatan nuklir.
Trump saat diwawancarai Fox Business terkait program nuklir Iran mengatakan, “Ada dua cara untuk menangani Iran: secara militer, atau Anda membuat kesepakatan”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media pemerintah Iran menjelaskan, Khamenei di sebuah pertemuan dengan pejabat senior Iran setelah wawancara Trump mengatakan tujuan AS “memaksakan harapan mereka sendiri”.
“Kegigihan beberapa pemerintah yang suka mengintimidasi dalam berunding bukan untuk menyelesaikan masalah. … Bagi mereka, berunding adalah jalan untuk mengajukan tuntutan baru, bukan hanya tentang masalah nuklir Iran. … Iran jelas tidak akan menerima ekspektasi mereka,” kata Khamenei, tanpa menyebut Trump secara langsung.
Menanggapi komentar Khamenei, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Brian Hughes menegaskan kembali hampir kata demi kata yang dipilih untuk pendekatan ini, negosiasi atau tindakan militer.
“Kami berharap Rezim Iran mengutamakan rakyatnya dan kepentingan terbaiknya di atas teror,” kata Hughes dalam sebuah pernyataan.
Sambil menyatakan keterbukaan terhadap kesepakatan dengan Iran, Trump telah menerapkan kembali kampanye “tekanan maksimum” yang dia lakukan saat menjabat presiden AS untuk pertama kalinya. Hal itu dia lakukan untuk mengisolasi Iran dari ekonomi global dan mendorong ekspor minyaknya ke titik nol.
Selama masa jabatan pertama Trump pada 2017-2021, dia menarik AS dari kesepakatan penting antara Iran dan negara-negara besar yang telah menetapkan batasan ketat pada aktivitas nuklir Teheran dengan imbalan keringanan sanksi.
Setelah Trump menarik diri pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi, Iran melanggar dan jauh melampaui batasan tersebut.
Kepala pengawas nuklir PBB Rafael Grossi mengatakan bahwa waktu hampir habis bagi diplomasi untuk memberlakukan pembatasan baru pada aktivitas Iran, karena Teheran terus mempercepat pengayaan uraniumnya hingga mendekati tingkat senjata. Teheran mengatakan pekerjaan nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.
Khamenei, yang memegang keputusan terakhir tentang kebijakan utama Iran, mengatakan “tidak ada cara lain untuk melawan paksaan dan intimidasi”.
“Mereka mengajukan tuntutan baru yang tentu saja tidak akan diterima oleh Iran, seperti kemampuan pertahanan, jangkauan rudal dan pengaruh internasional kami,” katanya.
Meskipun Teheran mengatakan bahwa program rudal balistiknya murni bersifat defensif, program ini dipandang Barat sebagai faktor tidak stabil di Timur Tengah yang bergejolak dan dilanda konflik.
Teheran dalam beberapa bulan terakhir telah mengumumkan penambahan baru pada persenjataan konvensionalnya, seperti kapal induk drone pertamanya dan pangkalan angkatan laut bawah tanah di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel.
(fea/fea)
Artikel ini Disadur Dari Berita : https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250309150608-120-1206747/iran-tolak-negosiasi-nuklir-pakai-intimidasi-dari-donald-trump