Jakarta, CNN Indonesia —
Selain berburu takjil hingga ngabuburit, ‘perang sarung‘ semula konon disebut budaya atau tradisi untuk menyambut bulan Ramadhan. Namun, kini konotasinya berubah menjadi negatif karena dikaitkan dengan aksi tawuran.
Di beberapa daerah, pemerintahan setempat dan aparat keamanan kini mulai mewaspadai aksi ‘perang sarung’ menjelang Ramadhan pada tahun ini, 1446 hijriah.
Salah satunya Satpol PP Surabaya yang memetakan wilayah rawan digunakan sebagai lokasi tawuran seperti Jalan Kenjeran, Jalan Kapas Madya, dekat TPU Rangkah, hingga Jalan Ngaglik. “Gangguan yang sering terjadi saat bulan Ramadhan biasanya perang sarung dan tawuran,” kata Kastapol PP Surabaya M Fikser, Sabtu (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juga di Sleman, DI Yogyakarta di mana pemkab setempat sudah berkoordinasi dengan lembaga terkait, termasuk kepolisian, untuk mengantisipasi gangguan kamtibmas selama bulan Suci Ramadhan. Satpol PP Sleman juga melakukan pemetaan titik-titik rawan terjadi gangguan kamtibmas.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa pada Kamis (27/2) mengatakan pihaknya mewaspadai kemungkinan ada perang sarung atau tawuran, hingga menyalakan petasan.
“Kami bersama dengan jajaran Polresta Sleman dan Forkopimda telah melakukan koordinasi untuk mengantisipasi potensi kejahatan jalanan, khususnya yang dilakukan anak-anak selama bulan Ramadhan,” kata Danang di Sleman, Sleman, Kamis (27/2) mengutip dari Antara.
“Patroli di lokasi-lokasi rawan gangguan kamtibmas akan ditingkatkan, terutama pada jam-jam selepas subuh,” imbuhnya.
Kemudian di Jakarta Utara, kepolisian menggandeng ulama untuk mencegah tawuran antar remaja selama Ramadhan. Polisi sebelumnya juga telah mendirikan 21 pos pantau di seluruh wilayah Jakarta Utara untuk mengantisipasi kerawanan keamanan seperti tawuran.
“Pos pantau kami dirikan dalam rangka mengantisipasi adanya peningkatan kegiatan masyarakat dalam rangka melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Ahmad Fuady , Rabu (26/2) mengutip dari Antara.
Kriminolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Soeprapto menduga ada perubahan proses sosialisasi nilai dan budaya dalam aksi perang sarung salam Ramadhan. Akibatnya, perang sarung kini mengalami perubahan makna dari semula kegiatan menyambut atau meramaikan Ramadhan, kini menjadi perang sungguhan untuk saling menyakiti.
Menurut Soeprapto, perang sarung sama halnya dengan klitih. Semula, klitih juga merupakan kegiatan baik untuk mengisi waktu luang. Namun, kini maknanya berubah menjadi ‘keliling golek getih’ atau keliling mencari darah.
“Sebetulnya tradisi tawuran dan perang sarung itu pada hakikatnya bertujuan menyambut bulan suci Ramadhan dalam bentuk permainan yang tidak saling menyakiti agar warga masyarakat tidak hanya berdiam diri di rumah, namun mau keluar berinteraksi dengan anggota masyarakat yang lain,” kata Suprapto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/2).
“Jadi intinya, tradisi yang semula bertujuan menciptakan keakraban, telah bergeser menjadi menciptakan permusuhan,” imbuhnya.
Suprapto menganggap perubahan makna sejumlah tradisi itu tak lepas dari pengaruh keluarga hingga lingkungan masyarakat.
Menurut dia dalam hal ini, keluarga telah kehilangan empat fungsi utamanya yakni fungsi pendidikan, perlindungan, ekonomi, dan fungsi reproduksi.
Selain keluarga, pihak yang patut dipersoalkan atas pergeseran tradisi atau budaya tersebut adalah lembaga pemerintah dan masyarakat. Oleh sebab itu, aparat keamanan dan ketertiban kini harus lebih dominan.
“Polisi, Pol PP, Petugas Binmas, perlu meningkatkan kualitas dan kuantitas patrolinya sebagai langkah kuratif dan preventif, serta melakukan sosialisasi ke masyarakat secara berkala sebagai penguatan langkah preventif,” kata Soeprapto.
Baca halaman selanjutnya…
Sementara itu, Sosiolog dari Universitas Nasional (Unnas) Jakarta, Nia Elvia menilai budaya perang sarung di kalangan remaja akibat nilai-nilai bulan suci Ramadhan yang tak terinternalisasi.
Hal itu, sambungnya, menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi banyak pihak termasuk ulama atau pemuka agama. Menurut dia, ulama dan pemuka agama mestinya harus lebih aktif menyampaikan nilai-nilai kedamaian kepada masyarakat.
“Peran ulama itu sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya fenomena perang sarung ini,” kata Nia saat dihubungi, Kamis (27/2).
Pencegahan dan penanggulangan
Sementara, Kriminolog UI, Achmad Hisyam menganalisis sejumlah alasan perang sarung kini menjadi sarana atau media untuk mengekspresikan diri bagi remaja.
Pertama, kata Hisyam, minimnya atau ketiadaan tindak tegas dari aparat keamanan atau penegak hukum.
Menurut Hisyam, tindak tegas tak selamanya dalam bentuk pemidanaan. Dia bilang langkah pencegahan dan edukasi bisa juga disebut sebagai upaya tegas.
Namun, kata Hisyam, masalahnya masih kerap jadi kebiasaan buruk aparat di Indonesia sebelum ada korban. Ketika ada korban, baru berbagai langkah dilakukan hingga isu itu mereda lalu berulang kembali.
“Ini kejadian [buruknya masalah pencegahan] di berbagai bidang ya,” kata Hisyam, Kamis.
Kedua, Hisyam menilai anak muda atau remaja perkotaan sudah kehilangan tempat bermain. Apalagi, sambungnya, aksi perang sarung umumnya banyak terjadi di wilayah perkotaan.
Meski ada sejumlah taman atau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), menurut Hisyam, jumlahnya tak cukup.
“Itu kan taman, bukan tanah lapang,” kata Hisyam.
Ketiga, peran keluarga dan lingkungan masyarakat. Menurut Hisyam, keluarga atau lingkungan masyarakat mestinya bisa memberikan kegiatan selama Ramadhan. Terlebih secara psikologis, pada dasarnya remaja membutuhkan kegiatan untuk mengekspresikan dirinya dan menunjukkan eksistensi.
Sehingga, tak adanya kegiatan selama Ramadhan membuat mereka bisa mengalihkannya menjadi kegiatan tawuran atau perang sarung.
“Nah ketika hal-hal tadi tidak terpenuhi, menyalurkan energinya ke tempat main yang enggak benar,” kata Hisyam.
[Gambas:Photo CNN]
Larang sahur on the road
Sementara itu untuk mendukung kamtibmas dan mencegah aksi tawuran hingga perang sahur, kepolisian di sejumlah tempat pun melarang aktivitas sahur on the road.
Beberapa di antaranya di Makassar dan DKI Jakarta.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menegaskan pelaksanaan sahur on the road sebaiknya ditiadakan masyarakat saat bulan suci Ramadhan agar tidak mengganggu ketertiban umum dan orang beribadah.
“Sahur on the road, sebenarnya kami tidak menyarankan. Tapi kalau itu dilaksanakan kami akan kawal dengan kegiatan positif. Namanya bulan suci Ramadhan, niatnya nambah pahala, jangan sampai berubah jadi nambah dosa,” katanya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/2) seperti dikutip dari Antara
Sedangkan untuk skema patroli anggota Polri, kata Kombes Arya, petugas telah ditempatkan pada posisi dan zona masing-masing termasuk secara aktif bergerak berpatroli di sejumlah titik rawan.
“Kita memantau titik yang sering didatangi masyarakat, mungkin ada masyarakat kumpul di sana atau mungkin buka puasa Bersama, atau setelah tarawih, serta mungkin ada kegiatan masyarakat bersama, nanti kita ikut mengawal,” kata Kapolres yang baru bertugas di Kota Makassar ini.
Terpisah, Polda Metro Jaya juga melarang warga untuk menggelar sahur on the road selama bulan Ramadan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kekhusukan selama bulan Ramadan.
“Yang jelas seperti tahun lalu, sahur on the road, ini sangat tidak diperbolehkan. Dan masyarakat betul-betul harus khusus untuk melaksanakan ibadah puasa dan biarlah kami yang ada di jalan kami saja,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Latif Usman kepada wartawan, Kamis (27/2).
Latif menyebut larangan ini dilakukan lantaran SOTR itu juga berpotensi menyebabkan aksi tawuran antar warga yang dapat mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.
“Kalau sahur on the road, kalau bertemu akhirnya perkelahian, tawuran, ini yang sangat kita hindari,” ujarnya.
lda Metro Jaya juga akan menggelar patroli skala besar untuk memastikan keamanan selama bulan Ramadan, termasuk memastikan tidak ada warga yang menggelar sahur on the road.
“Mari, bulan puasa ini banyak-banyak berkumpul dengan keluarga, harapannya gitu. Kalau dengan teman sudah sering. Puasa ini berkumpul dengan keluarga. Harapan kita demikian. Sudah, di rumah saja,” lanjutnya.